46 views

Uji Kompetensi Guru Banyuasin 1.215 orang

Banyuasin, 5 September 2017, selama 5 hari Uji Kompetensi Guru (UKG) berlangsung di Banyuasin mulai tanggal 4 s.d. 8 September 2017  di 4 lokasi di SMAN 1 BA.III, SMAN 2 Plus BA.III, SMPN 2 BA.III dan SMPN 1 Sembawa setidaknya 1.215 guru yang ikut UKG tahun 2017 ini, dari TK, SD dan SMP, lebih lanjut di jelaskan Kepala Disdikporapar Kab.Banyuasin Dr.H.M. Harun Samsudin, S.Pd., M.M peserta UKG dari Kab.Banyuasin di 4 TUK masing-masing  di SMAN 1 BA.III 316 peserta, di SMAN Plus 2 BA.III 300 peserta, di SMPN 2 BA.III 300 peserta dan di SMPN 1 Sembawa 299 peserta

 

Berikut Hasil UKG online tertinggi tahun 2015

No. Jenjang Mata Pelajaran No. Peserta Nama Peserta Total Pedagogik Total Profesional Nilai Total Moda Diklat
1338 SD Guru Kelas SD (Kelas Atas) 201500303999 OMIEF TACHLIATUSH SHOLIHAH 84,325397 93,537415 90,7738 online
1045 SD Guru Kelas SD (Kelas Bawah) 201511986703 NANI KHILMIYATI 99,206349 93,537415 95,2381 online
293 SD Pendidikan Jasmani dan Kesehatan 201512160584 NURFATAH 99,206349 93,537415 95,2381 online
85 SD Seni Budaya 201503822845 SITI SUFIYAH 91,269841 69,727891 76,1905 online

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) melakukan Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk mengukur sekaligus mengembangkan potensi guru dalam rangka meningkat kualitas.

Menurut Ditjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kemdikbud Sumarna Surapranata, guru bisa menggunakan UKG sebagai sarana untuk mengembangkan diri. Pasalnya, UKG mengukur dua dari empat kompetensi guru yakni kompetensi profesional dan pedagogis. Sedangkan kompentensi lainnya, seperti kompetensi sosial dan kepribadian diukur melalui penilaian kinerja guru(PKB). “UKG agar guru terus belajar akan menjadi inspiransi nyata bagi siswa,” kata dia belum lama ini.

Adapun tujuan dari UKG guru bisa mengetahui capaian kompetensi. Kedua, langkah awal guru bisa mengembangkan pelatihan sesuai rapor kompetensi guru, dan kesempatan mengembangkan diri dan prestasi bagi guru. Ketiga, meningkatkan mutu pembelajaran. “Guru-guru menjadi contoh nyata pembelajaran,” kata dia.

Sementara untuk pengukuran kompetensi non-akademis dilakukan dengan cara menilai kinerja guru yang diukur dengan penilaian keterampilan, kehadiran, dan motivasi.

Selama ini penilaian kinerja guru dilakukan oleh atasan langsung yaitu kepala sekolah atau pengawas sekolah. Namun, model ini cenderung bersifat subjekif, sehingga diperlukan penilaian dari pihak luar untuk mencapai hasil yang lebih objektif. Pihak luar yang dimaksud di antaranya komite sekolah, masyarakat dan para siswa. Tujuannya, untuk mendapat potret guru yang lebih baik.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*